Sabtu, 29 Desember 2012

Ada jenis rasa pada diri manusia, ada merasa, perasaan dan rasa.


Yang pertama adalah merasa, merasa merupakan basyirah (mata) dari ego dan keakuan diri. Misalnya merasa berilmu, merasa punya harta, merasa bisa beribadah dan merasa bisa shalat, atau merasa bisa sabar, bisa ikhlas atau bisa khusu'. Buah dari merasa adalah ego dan keakuan, riya' dan sombong, hati akan cenderung mengeras dan merasa paling benar. Jadi dalam melakukan segala sesuatu, baik itu berhubungan dengan Allah atau makluk, bahkan pada diri sendiri bila berangkan dari rasa merasa, berarti yang melakukan segala sesuatu itu adalah akal dan nafsu kita. Rasa merasa itu bisa kita hadirkan (datangkan) dan bisa juga kita singkirkan. Bila akal dan nafsu yg berbuat, maka akan jauh dari rasa ikhlas dan tulus. Semuanya akan serba perhitungan, untung dan rugi,....itu adalah perbuatan yg jauh dari Ridha Illahi dan dekat dengan Murka-Nya.

Yang kedua adalah perasaan, perasaan merupakan basyirah (mata) dari jiwa, jiwa itu adalah itu masih terselubung dengan nafsu sufia, aluamah, amarah dn mutma'inah. Seperti perasaan sayang, perasaan cinta, perasaan ikhlas, perasaan sabar dan khusyu'. Perasaan ini juga bisa di hadirkan, juga bisa kita tolak, misalnya perasaan sayang pada sseorang, perasaan belas kasih kepada seseorang juga perasaan sabar dan

khusyu'. Perasaan ini masih belum mencapai haqul yakin, masih jauh dari Allah, misalnya,'"Perasaanku, aku tadi telah mengunci rumah-ku!",(perasaan itu masih belum yakin dgn apa yg di rasa) begitu juga perasaan-perasaan yg lainya, seperti perasaan shalatku telah khusyu' dan perasaan aku telah menatap wajah Allah, semua itu adalah perasaan atau perjalanan jiwa, dan perlajanan jiwa itu belum jelas adanya. Jiwa tidak akan pernah sampai kehadirat Allah, hanya prasangka dan dagelan semata. Seperti apa yang di capai oleh Meditasi, Kundalini, Yoga dan lain sebagainya (kesemuanya itu adalah kondisi yg kita ciptakan, itu hanya sampai pada alam bawah sadar, mohon di perhatikan hal ini, sehingga kita tahu sampai mana perjalanan rohani kita, hanya sampai jiwa atau masuk kedalam ruh, karena Ruh tidak bisa di kendalikan oleh kemauan kita, dia punya kehendak sendiri tidak bergantung pada kehendak kita), itu hanya sampai pada ketenangan Jiwa (Nafsu Mutma'inah) hanya berkedudukan di surga belum mampu menatap "wajah-Nya" dan bertemu Dengan-Nya. Mohon direnungi, dengan apa kita melakukan segala sesuatu yang kita kerjakan, baik itu ibadah kepada Allah atau kepada sesamanya.

Yang ketiga adalah rasa, rasa merupakan Basyirah dari Sirr (zauq). Dan basyiratus Sirr adalah yang mampu mengenali Tuhan-Nya, dan basyiratus sirr adalah penglihatan-nya Ruh. Sifatnya rasa tidak bisa di datangkan (dihadirkan seperti perasaan dan merasa), tapi dia datang dgn sendrinya tidak dapat di pinta dan di tolak. Misalnya di saat kita shalat, tiba-tiba keluar air mata dan rasa bahagia, tanpa kita pinta dan berusaha untuk merasakanya, ada begitu saja, atau di saat kita duduk santai sambil rokokan dan di temani secangkir kopi, tiba-tiba diri merasakan satu rasa yang nikmat dan tentram dalam raga, tanpa kita berpikir sebelumnya itulah sifatnya rasa. Dan rasa bila sudah menyapa, itulah haikatnya DIA sedang membelai Raga kita, Allah sedang hadir menyapa Raga dgn kasih-Nya. Apa yg di sebut hijab dalam rasa? Yang di sebut hijab dalam rasa adalah, apabila disaat kita shalat atau duduk dan mersakan apa yang saya jelaskan tadi, suatu kali rasa itu tak datang menyapa, kita berusaha untuk menghadirkanya (ingin mengulang rasa yg telah kita rasakan),...keinginan untuk kembali merasakan itulah yg namanya hijab, seperti yg telah saya sebutkan tadi rasa tidak dapat kita hadirkan dan tolak, bila kita menghadirkan rasa maka sesungguhnya itu bukan rasa tapi sudah menjadi merasa dan perasaan. Rasa hanya bisa hadir dalam diri yang bersih dari segala berhala, yang menduakan Allah, dan hati yang lembut, hati yang lembut adalah hati yang hanya di penuhi dengan Allah.

Pintu Rasa adalah dengan menyadari segala gerak laku itu atas Ijin Allah, lakunya adalah tafakur (merenung), amalanya adalah diam. Menyadari dan mengikuti segala kehendak adalah Kehendak Allah.

0 komentar:

Posting Komentar

comment please....